YUSUF ASYHARI

Bismillahirrahmannirrahim

"Wanita diciptakan dengan 9 nafsu dan 1 pikiran, sedangkan pria diciptakan dengan 9 pikiran dan 1 nafsu. Dengan 1 pikiran wanita dapat menahan 9 nafsunya, namun pria dengan 9 pikirannya tidak dapat mengendalikan 1 hawa nafsunya." Rabi’ah Al ‘Adawiyah

Al Quran jelas tidak pernah mencantumkannya, Hadits juga belum Ashar temukan, dan yang aku temukan terakhir adalah sebuah Kisah yang memang menggunakan ungkapan tersebut. Jadi bisa dikatakan bahwa itu adalah untaian kata dari seorang pujangga dan bukan dasar yang mendasari Islam sebenarnya yang tidak lain dan tidak bukan berasal dari Al Quran dan As-sunnah. Dialah sufi wanita yang bernama Rabi'ah Al 'Adawiyah.

Cuplikan Kisah Rabi'ah Al 'Adawiyah dan Hasan Al-Basri
Rabiatul Adawiyah : Hai Hassan,dalam berapa bagiankah Allah menciptakan akal?
Hasan Al-Basri : 10 bagian, 9 untuk lelaki 1 untuk wanita.
Rabiatul Adawiyah : Dalam berapa bagiankah Allah menciptakan nafsu?
Hasan Al-Basri : 10 bagian, 9 untuk wanita 1 untuk lelaki.
Rabiatul Adawiyah : Hai Hasan, aku dapat menguasai 9 nafsu dengan 1 akal,sedangkan kamu, pihak lelaki tidak dapat menguasai 1 bagian nafsu dengan 9 akal yang kamu dapat.

BIOGRAFI
Rabiah adalah salah satu tokoh sufi wanita pada zamannya, Beliau dilahirkan di kota Basrah tahun 95 hijriyah dan putri ke 4 dari seorang lelaki bernama Ismail Adawiyah. Beliau hidup dalam kemiskinan dan lingkungan yang serba kurang bahkan ketika Rabiah lahir lampu untuk menerangi saat kelahirannyapun tidak ada. Ayahnya hanya seorang yang bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlomba-lomba mencari kekayaan. Sebab itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali. Namun begitu, Allah telah memelihara sebahagian kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut.

Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafsu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat. Ayahanda Rabi’ah merupakan hamba yang sangat taat dan taqwa, hidup jauh dari kemewahan dunia dan tidak pernah berhenti bersyukur kepada Allah. Beliau mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehingga berhasil menghafal kandungan al-Quran.

Sejak kecil Rabi’ah sudah berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam. Memasuki masa kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit dan semakin sulit setelah beliau ditinggal ayah dan ibunya dipanggil Allah. Dan ujian-ujian lain yang menguji keteguhan imannya sampai dia sanggup untuk menjadi hamba sahaya dari seorang kaya raya pada zaman itu. Hal itu terjadi karena penderitaan kemiskinan yang dideritanya. Cobaan demi cobaan dilalui Rabiah dalam menjalani hidupnya yang sarat akan penderitaan dan karena beliau pandai memainkan alat musik, maka majikannya semakin menjadikannya sumber mencari uang dengan keahlian yang dimiliki Rabiah.

Dalam keadaan hidup yang keras dan serba terkekang sebagai hamba sahaya, Rabiah mendekatkan diri kepada Allah dan selalu menyempatkan waktunya yang luang untuk terus memohon kepada Allah. Amalannya tidak hanya sebatas berdoa saja tapi sepanjang hari dan sepanjang ada waktu dia senantiasa selalu berzikir dan berdoa. Dia juga selalu melaksanakan amalan-amalan sunat lainnya dan saat melakukan sholat sepanjang sholat air matanya selalu membasahi sajadahnya. Air mata kerinduan kepada Allah sang Khaliq yang di rinduinya.

Ada yang mengatakan beliau telah terjebak dalam dunia maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan dasar keimanan yang kuat dan belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Saat-saat taubat inilah yang mungkin dapat menyadarkan serta mendorong hati bagaimana merasai cara berkomunikasi yang baik antara seorang hamba rabiah dengan sang Khaliq Allah swt dan selayaknya seorang hamba bergantung harapan kepada ihsan Rabbnya.

Kecintaan Rabiah kepada Allah mengalahkan hidup dan kecintaannya kepada dunia dan isinya. Hari-harinya habis untuk berkomunikasi dengan Allah betapa dia merasa dirinya adalah milik Allah hingga ada beberapa pemuda ingin melamarnya di tolaknya dengan halus. Beliau selalu berbicara dengan Allah seolah-olah dekat sekali dengan Allah dengan bahasa-bahasa yang indah dah doa-doa yang sangat menusuk hati dan kata pujian seperti layaknya kerinduan seseorang kepada kekasih hatinya. Salah satu kata-kata Rabiah ketika ber munajat sambil air matanya mengalir,

"Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”

"Ya Tuhanku!
Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu
supaya tiada suatupun yang dapat
memalingkan aku daripada-Mu.”

Rabiah banyak menolak lamaran yang datang kepada nya
dengan inilah alasannya: “Perkawinan itu memang perlu bagi siapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.” Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata- mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keridhaan Allah. Rabi’ah telah mematikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata.

Selama 30 tahun, doa ini senantiasa selalu diulang dalam sholatnya
“Ya Tuhanku!
Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu
supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”

Antara syairnya yang masyhur berbunyi:
“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”

Rabi’ah sangat luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memuliakan pemahamannya tentang sufinya dengan menanamkan rasa takut dari murka Allah seperti yang pernah diungkapkan dalam doa-doanya.

“Wahai Tuhanku!
Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut- Mu dan
hamba yang takut kepada-Mu?”

Kecintaan Rabi’ah kepada Allah bukan karena pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata, tapi sudah menjadi kewajiban baginya.

“Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap syurgaMu maka jauhkan aku dari syurgaMu! Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, ijinkan aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada- Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah yaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun.

Indah bukan? Namun apa jadinya apabila semua Orang seperti itu? Orang yang tidak mengenal Orang lain dan berketurunan. Begitulah adanya ^^

Categories:

6 Responses so far.

  1. Anonim says:


    Kasihan, dia merasa telah banyak beramal namun sebetulnya sesat yang sangat jauh.

    Allah menciptakan neraka agar seorang hamba takut, dan menciptakan neraka agar seorang hamba memiliki pengharapan.

    Jika seorang hamba tidak takut akan neraka dan tidak berharap akan syurga dapat disimpulkan bahwa dia sombong. Dia mengira akan masuk syurga dengan amalnya saja, padahal seseorang masuk surga itu atas dasar rahmat Allah bukan sepenuhnya atas amal yang dikerjakan.

    Wallahu a'lam bis shawab.

  2. Anonim says:

    Koreksi paragraf kedua:

    Allah menciptakan neraka agar seorang hamba takut, dan menciptakan surga agar seorang hamba memiliki pengharapan.

  3. Anonim says:

    berbicara jngan sembarangan,"kerna mulut badan binasa"..,andaikate kte tdak thu mngenai thap keimanan seseorg,kte jangan pandai2..jdi brkatalah aku briman hanya kpada Allah dan Rasul....

  4. Terimakasih koreksi, kritik, dan sarannya ^^

  5. Anonim says:

    keren :)

  6. sehancur-hancur akhlak suatu ummat dalam suatu negara ternyata Allah masih menjaga satu helompok atau kaum sebagai penyeimbang atau penyelamat ummat manusia di muka bumi ini.......maka seyogyanya kaum kafir berterima kasih kepada kaum muslimin dan muslimat yang senantiasa berdo'a kepada Allah untuk mencegah kehancuran atas kehidupan di muka bumi ini..........Subhanallah.....Allahhuakbar...!!!!!!

Leave a Reply